Selasa, 23 Juni 2009

Investigasi Ilmiah dan Pelatihan Investigasi Seni Membuat Kesimpulan

ORIENTASI PADA MODEL
Esensi pendekatan Studi Kurikulum Ilmu Biologi (BSCS) adalah mengajarkan siswa memproses informasi yang menggunakan teknik sejenis dengan penelitian orang Biologi – yaitu, mengidentifikasi masalah dengan menggunakan metode khusus untuk memecahkannya. BSCS menekankan isi dan proses. Penekanan pertama pada sikap manusia pada ekologi bumi. Masalah ini diciptakan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, pengurangan sumber daya, polusi, pembangunan regional, semua ini nampaknya membutuhkan intelijen pemerintah dan tindakan masyarakat. Hal ini sebahagian, masalah lingkungan biologis, dan semua warga negara harus memiliki kesadaran terhadap lingkungannya (Schwab, 1965, p. 19)

Penekanan kedua adalah pada investigasi ilmiah.
Walaupun satu dari tujuan utama versi ini adalah mendeskripsikan kontribusi utama biologi molekuler modern yang telah dibuat bagi pemahaman umum masalah-masalah ilmiah. Diukur oleh hampir semua pengukuran standar, ilmu pengetahuan telah dan berlanjut menjadi kekuatan dahsyat dalam masyarakat kita. Akan tetapi, masalah terjadi. Permasalahan ini, dikemukakan oleh C.P Snow dalam bukunya Two Cultures, muncul dari kenyataan bahwa walaupun banyak orang dapat paham produk ilmu pengetahuan, di waktu yang sama, mereka menjadi tak peduli kenaturalan ilmu pengetahuan dan metode investigasinya. Ini mungkin penyimpulan yang aman bahwa pemahaman produk ilmu pengetahuan tidak bisa diperoleh tanpa memahami proses. Serupa, dalam masyarakat bebas seperti masyarakat kita, banyak tergantung pada rata-rata evaluasi ilmu pengetahuan masyarakat. (Schwab, 1965, p. 26-27)
Untuk membantu siswa memahami kealamian ilmu pengetahuan, strategi dikembangkan oleh komite BSCS mengenalkan siswa pada metode biologi yang dalam waktu yang sama mereka memperkenalkan ide-ide dan kenyataan yang ada. Komite tersebutnya meletakkanya secara tajam.
Bila kita memeriksa buku teks konvensional SMA, kita mendapatkan isinya utamanya atau keseluruhannya tentang suatu seri pernyataan positif yang tidak berkualifikasi. Ada terlalu banyak jenis mamalia. “Organ A dibentuk oleh tiga tissue:. Respirasi terjadi dalam langkah terakhir berikut” Gen adalah unit hereditas”. Fungsi A adalah X”.
Pernyataan kesimpulan ini sudah lama menjadi standar retorik buku teks bahkan di level kuliah. Ia mempunyai banyak manfaat, simplisitas dan ukuran ekonomis, setidaknya. Akan tetapi, ada banyak keberatan terhadap itu. keduanya dari penghilangan atau perintah, adanya kesalahan gambar kealamian ilmu pengetahuan.
Kesimpulan retoris memiliki dua efek yang tidak menguntungkan bagi siswa. Pertama, ia memberikan inpresi bahwa ilmu pengetahuan berisi kebenaran yang tetap, tidak dapat berganti. Tetapi ini bukanlah kasusnya. Percepatan pengetahuan tahun-tahun terakhir ini telah menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan bersifat revisi. Secara temporer ia codex, secara kontinyu direstrukturisasi karena data baru berhubungan dengan yang lama.
Kesimpulan retoris juga cenderung menyampaikan kesan bahwa ilmu pengetahuan lengkap. Ternyata, kenyataan bahwa investigasi ilmiah masih berlangsung, dan pada waktu tertentu, tidak dapat dipertanggungjawabkan bagi siswa.
Dosa penghilangan oleh kesimpulan retoris dapat dinyatakan: Ia gagal menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan ilmiah lebih dari sekedar laporan sederhana sesuatu yang diobservasi, yaitu badan pengetahuan yang dipalsukan secara perlahan dan tentatif (ragu-ragu) dari raw materialnya. Itu tidak menunjukkan bahwa perencanaan eksprimen dan pengamatan muncul dari masalah yang muncul. Dan masalah tersebut, bergantian, muncul dari konsep yang menyimpulkan pengetahuan kita sebelumnya. Akhirnya dari kepentingan yang lebih besar, merupakan kenyataan bahwa kesimpulan retorik gagal menunjukkan bahwa ilmuan seperti orang biasa, dapat salah, dan banyak investigasi/penyelidikan berhubungan dengan perbaikan kesalahan.
Di atas semua, kesimpulan retorik gagal menunjukkan bahwa konsep penyimpulan kita diuji oleh banyaknya pertanyaan yang mereka anjurkan, dan melalui tes ini dilakukan revisi dan penggantian.
Esensinya, pengajaran ilmu pengetahuan sebagai penyelidikan adalah menunjukkan beberapa kesimpulan ilmu pengetahuan dalam kerangka kerja dari mana mereka muncul dan diuji. Hal ini dapat berarti mengatakan ide yang ada, dan eksprimen untuk mengindikasikan data yang ditemukan, dan mengikuti interpretasi dimana data ini dikonversikan ke dalam pengetahuan ilmiah (Schwab, 1965, p. 39-40).
BSCS menggunakan beberapa teknik mengajar ilmu pengetahuan sebagai penyelidikan. Pertama, ia menggunakan banyak pertanyaan naturalitas ilmu pengetahuan yang tentatif, seperti; “Kita tidak tahu”. Kita tidak mampu menggunakan bagaimana sesuatu terjadi,” dan bukti tentang hal ini bertentangan”. (Schwab, 1965, p. 40).
Teori baru, dapat diganti dengan yang lain sejalan dengan waktu. Kedua, dalam wadah kesimpulan retorik, BSCS menggunakan narative of inquiry, dimana sejarah ide mayor dalam Biologi dipaparkan. Ketiga, pekerjaan laboratorium diadakan untuk mengenalkan kepada siswa untuk menyelidiki permasalahan, daripada sekedar mengilustrasikan teks. (Schwab, 1965, p. 40). Keempat, program laboratorium telah didesain dalam bentuk blok yang melibatkan siswa dalam investigasi masalah biologi yang nyata. (Schwab, 1965, p. 41).
Jadi siswa menstimulasikan aktifitas penelitian ilmuwan. Akhirnya, ada penggunaan apa yang disebut inovation to enquiry (undangan penyelidikan). Selayaknya fungsi laboratorium ini melibatkan siswa dalam aktifitas yang memampukan dia mengikuti dan berpartisipasi dalam membuat alasan yang berkenaan dengan penyelidikan awal atau masalah metodologi biologi.
Dalam bab ini kami menyajikan Undangan Penyelidikan sebagai model pengajaran yang digambarkan dari materi-materi BSCS


UNDANGAN PENYELIDIKAN
Penghargaan untuk Schwab, strategi ini dibuat
Menunjukkan kepada siswa bagaimana pengetahuan muncul dari interpretasi data…dan juga pencarian data berlanjut pada konsep dasar dan asumsi yang berubah seiring pertumbuhan pengetahuan…bahwa prinsip dan konsep berubah, pengetahuan berubah pula…melalui perubahan pengetahuan, ia berubah untuk alasan yang baik. – karena kita mengetahui lebih baik dari apa yang kita ketahui sebelumnya. Pembicaraan ini membutuhkan penekanan: kemungkinan bahwa pengetahuan saat ini dapat direvisi dimasa yang akan datang tidak berarto pengetahuan saat ini salah. Pengetahuan saat ini adalah pengetahuan berbasiskan fakta dan konsep teruji yang terbaik kita miliki. Ini paling reliable, pengetahuan rasional yang manusia mampu lakukan. (Schwab, 1965, p. 46)
Setiap permintaan penyelidikan (atau pelajaran) adalah studi kasus yang mengilustrasikan baik konsep utama juga metode ilmu. Setiap undangan memiliki contoh setelah dari proses itu sendiri terkait dengan partisipasi siswa dalam proses itu. (Schwab, 1965, p. 47)
Dalam setiap kasus sehari-hari studi ilmiah digambarkan. Akan tetapi penghilangan, blank, atau keingintahuan masih tertinggal belum diselidiki, dimana siswa diundang untuk mengisi: Penghilangan ini mungkin merupakan rencana dalam eksprimen. Itu mungkin merupakan kesimpulan untuk diambil dari data yang diberikan. Itu mungkin merupakan hipotesis yang kelak dipertanggungjawabkan atas data yang diberikan. (Schwab, 1965, p. 46). Dengan kata lain, format undangan memberi keyakinan siswa melihat penyelidikan biologi dalam tindakan dan terlibat di dalamna, karena dia harus memperagakan eksprimen yang hilang atau menggambarkan kesimpulan yang dihilangkan.
Rangkaian undangan adalah sekuensial dalam term kesulitan yang bertahap dapat membawa anak pada konsep yang lebih rumit. Kita dapat melihatnya dalam Undangan Penyelidikan kelompok pertama yang fokus pada topik yang berhubungan dengan metodologi – peran dan kealamian pengetahuan umum, data eksperimen, kontrol, hipotesis, dan masalah dalam penyelidikan ilmiah. Subjek dan topik undangan dalam kelompok 1 muncul pada tabel 12.1
Undangan 3 dalam kelompok 1, suatu contoh dari model ini, membawa siswa berhubungan dengan masalah salah interpretasi data.
(Subjek: Biji yang mulai tumbuh)
(Topik: Misinterpretasi data)
Ini adalah sesuatu yang beresiko dalam menginterpretasikan data. Yang lain adalah menyampaikan informasi interpretasi tanpa ada bukti. Apakah berdasar pada salah baca data yang ada atau berbeda dengan bukti tersebut. Materi dalam undangan ini ditujukan untuk mengilustrasikan satu misinterpretasi yang paling jelas. Ia juga memperkenalkan peran masalah yang diformulasikan dengan jelas dalam mengontrol data dari eksprimen yang dibawa oleh masalah itu.
Bagi siswa: (a) Seorang penyelidik tertarik dalam kondisi dimana biji akan tumbuh terbaik. Dia menempatkan beberapa benih jagung pada kertas blotting lembab dalam setiap dua piringan gelas. Dia lalu menempatkan satu dari piring ini di dalam ruangan tanpa cahaya. Yang lain diletakkan dalam ruang bercahaya cukup. Kedua ruangan diatur suhu yang sama. Setelah empat hari, penyelidik memeriksa benih. Ia menemukan bahwa semua biji di kedua piring telah tumbuh.
Interpretasi apa yang anda akan buat dari data eksprimen ini? Jangan ikutkan fakta yang mungkin anda dapatkan dari luar, tetapi terbatas hanya pada interpretasi atas eksprimen ini saja.

Tabel 12.1
UNDANGAN PENYELIDIKAN, KELOMPOK 1. PENYELIDIKAN SEDERHANA, PERAN DAN KEALAMIAN PENGETAHUAN UMUM, DATA EKSPRIMEN, KONTROL, HIPOTESIS, DAN MASALAH DALAM INVESTIGASI ILMIAH.

Favitasi Subjek Topik
1 Nukleus Sel Interpretasi Data Sederhana
2 Nukleus Sel Interpretasi Variasi Data
3 Pertumbuhan biji Misinterpretasi Data
4 Physiologi Tumbuhan Interpretasi Data Kompleks
Kesimpulan Interim I Data dan Pengetahuan
5 Ukuran Umum Sistematika dan Kesalahan Random
6 Nutrisi Tumbuhan Merencanakan Eksprimen
7 Nutrisi Tumbuhan Merencanakan Eksprimen
8 Populasi Alamiah, Predator Pemangsa Kontrol Eksprimen, Data Terbaik Kedua
9 Pertumbuhan Populasi
10 Lingkungan dan Penyakit Masalah Sampling
11 Cahaya dan Pertumbuhan Tumbuhan Ide Hipotesis
12 Kekurangan Vitamin Konstruksi Hipotesis
13 Seleksi Alam “Bila…, lalu…” Praktek analisa dalam Hipotesis
Kesimpulan Interim 2, Peran Hipotesis
14 Auxin dan Pergerakan Tumbuhan Hipotesis: Interpretasi ketidaknormalan
15 Neorohormones Jantung Masalah Ilmiah Asli
16 Penemuan Pinicilin Tidak sengaja dalam kesimpulan
16A Penemuan Anaphylaxis Tidak sengaja dalam kesimpulan

Sumber: Joseph J. Schwab, Supervisor, BSCS, Buku Pegangan Guru Biologi (New York: John Wiley & Son, Inc., 1965), p. 52. Seizin Studi Kurikulum Biologi


Tentu saja eksperimen itu didesain untuk menguji faktor cahaya. Undangan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan secara logis yang tidak memadai untuk mengatakan bahwa eksprimen menganjurkan kelembaban perlu untuk pengembangbiakan benih. Yang lain dapat berkata suhu yang hangat diperlukan. Bila saran itu tidak muncul, lakukan sekali sebagai kemungkinan. Lakukan dengan sikap yang akan mendorong ekspresi interpretasi yang tidak dapat dijamin bila ada diantara para siswa.
Bila interpretasi seperti itu muncul, anda dapat menyarankan kelemahannya dengan bertanya pada siswa tersebut apakah data menyarankan bahwa biji jagung membutuhkan piringan kaca untuk tumbuh. Mungkin tidak ada siswa yang akan menerimanya. Anda harus memiliki ketidakmudahan untuk menunjukkan pada mereka data yang mereka pikirkan adalah bukti dibutuhkannya kelembaban atau kehangatan tidak berbeda dengan data tersedia tentang piring kaca.
Bagi siswa: (b) Faktor apa yang sangat berbeda di sekeliling piring? Untuk melihat jawaban anda, ingat hal ini adalah eksprimen yang terencana, nyatakan secara rinci sebisanya masalah khusus yang membawa pada perencanaan eksprimen khusus.
Format penyelidikan ini cukup khusus. Siswa diperkenalkan dengan masalah yang diserang oleh orang biologi, dan mereka diberikan beberapa informasi tentang investigasi yang sedang dilaksanakan. Siswa dibimbing untuk menginterpretasikan data dan berhubungan dengan interpretasi yang dijamin dan tidak dijamin. Lalu, siswa dibawa untuk dapat mendesain eksprimen yang akan menguji faktor sedikit kemiripan dari misinterpretasi data. Syntax ini – untuk mengedepankan masalah tentang sesuatu investigasi, lalu menyakinkan siswa untuk mencoba menggenerasikan cara menimpulkan yang akan mengeliminasi kesulitan khusus dalam area – digunakan dalam keseluruhan program.
Mari kita lihat permintaan pada penyelidikan yang lain. Kali ini dengan topik orientasi konsep. Ilustrasi berikut adalah dari permintaan kelompok yang berhubungan dengan konsep fungsi. Topiknya telah distruktur sehingga ia mendekati masalah metodologis. Bagaimana kita menyimpulkan fungsi bagian yang diberikan karakteristik yang dapat diobservasi (apakah bukti dari fungsi?) Dalam model ini pertanyaan tidak dikemukakan secara langsung. Alih-alih, siswa dibimbing melalui area investigasi, dimana dalam permintaan ini telah dibuat kerangka untuk dimasukkan dalam hal yang bersifat metodologis dan roh penyelidikan. Pertanyaan selanjutnya dikemukakan sehingga siswa sendiri mengidentifikasi kesulitan dan kemudian berspekulasi cara mengatasinya.

MODEL PENGAJARAN
Esensi model ini adalah melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penyelidikan dengan mengkonfrontir mereka dalam area investigasi, membantu mereka mengidentifikasi masalah konseptual dan metodologis dalam area investigasi, dan meminta mereka mendesain cara mengatasi masalah tersebut. Jadi, mereka melihat pengetahuan dalam pembuatan dan diinisiasikan kedalam komunitas pembelajar. Dalam waktu yang sama, mereka mendapatkan respek pengetahuan yang lebih baik dan mungkin akan belajar baik limitasi pengetahuan terbaru dan ketergantungannya. (Schaubel, Klopfer, dan Raghaven, 1991).

SINTAKSI
Sintaksis memiliki sejumlah bentuk (Lihat tabel 12.2). Secara esensi ia terdiri atas elemen atau fase berikut, walaupun mereka mungkin muncul dalam jumlah.


Tabel 12.2 Model Pertanyaan Ilmu Biologi
Tahap I Tahap II
Area investigasi diberikan kepada siswa Siswa menstruktur permasalahan
Tahap III Tahap IV
Siswa mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam investigasi Siswa memikirkan jalan penyelesaian masalah

Pada tahap I, kesempatan bertanya dan menyelidiki dimiliki oleh siswa, termasuk metodologi yang digunakan dalam investigasi. Pada tahap II, permasalahan yang ada distruktur sehingga siswa dapat mengidentifikasi kesulitan yang mereka temukan. Kesulitan tersebut bisa saja menjadi data interpretasi, data turunan, kontrol pemecahan, dan bahan penarikan kesimpulan. Pada tahap III para siswa diminta memikirkan pemecahan bagi masalah yang ada dengan jalan merancang ulang percobaan, mengorganisir data dengan jalan yang berbeda, menurunkan data, membangun konstruksi data dan sebagainya.

Sistem Sosial
Dalam sebuah kerjasama, iklim ketelitian sangatlah diharapkan. Karena siswa akan disambut dalam sebuah komunitas pencari yang menggunakan teknik-teknik terbaik dalam ilmu pengetahuan, dalam iklim ini termasuk pula tingkat keyakinan. Para siswa membuat hipotesa dengan tekun, menentang bukti-bukti yang ada, kritis terhadap desain riset yang ada, dan sebagainya. Dalam hal ini, siswa juga harus mau bekerja keras, siswa harus menyadari pentingnya ilmu pengetahuan mereka sebagai penerapan disiplin dengan menghargai pendekatan yang mereka lakukan terhadap suatu disiplin ilmu yang telah berkembang dengan baik.

Prinsip Reaksi
Tugas guru adalah untuk mengawasi pertanyaan dan menekankan proses investigasi dan mengajak siswa untuk ikut serta di dalamnya. Guru perlu berhati-hati karena identifikasi fakta bukanlah pusat permasalahan dan guru juga perlu meningkatkan tekad dalam penyelidikan tersebut. Guru haruslah memiliki rencana untuk mengarahkan siswa agar dapat menurunkan hipotesa, menginterpretasi data dan membangun konstruksi yang mana nampak sebagai cara yang amat penting dalam menginterpretasikan fakta yang ada.
Sistem Pendukung
Seorang instruktur yang fleksibel dan mumpuni dalam proses penyelidikan, seorang yang merupakan pasokan tentang masalah penelitian dan masalah-masalah berikutnya, dan seorang sumber data yang diperlukan yang mana tersedia dalam setiap penelitian merupakan sistem pendukung dalam model ini.

Penerapan
Sejumlah model pengajaran disiplin sebagaimana proses-proses penyelidikan, semuanya dibangun mengelilingi konsep-konsep dan metode-metode dari disiplinb yang partikular.
Proyek ilmu Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial Michigan, yang dipimpin oleh Ronald Lippit dan Robert Fox, berdasar pada pendekatan yang benar-benar potensial namun cukup mengejutkan dalam hal kesederhanaannya. Strategi ini adalah untuk mengajarkan Teknik Penelitian Psikologi Sosial yang diarahkan untuk anak-anak dengan menggunakan hubungan sosial manusia, termasuk tingkah laku mereka sendiri. Hasil menunjukkan psikologi sosial sebagaimana konsep-konsep dan metode-metode disiplin hidup yang digabungkan melalui penerapan yang berkelanjutan kepada sebuah pertanyaan terhadap masalah hubungan antar manusia. Kurikulum ini mengilustrasikan bagaimana anak-anak sekolah dasar dapat menggunakan prosedur keilmuan dalam menilai dan mengamati perilaku sosial.
Baik konsep psikologi sosial yang dijalankan oleh pembuat kurikulum maupun strategi pengajaran mereka, yang mana secara esensial adalah untuk memimpin anak-anak dalam mempraktikkan psikologi sosial, mungkin saja paling baik ditunjukkan dengan melihat materi mereka dan aktifitas-aktifitas apa saja yang mereka anjurkan. Mereka telah mempersiapkan “Tujuh Unit Laboran” yang dibangun di sekeliling sumber buku dan satu seri buku proyek. Ketujuh unit tadi dimulai dengan sebuah eksplorasi terhadap kemurnian Ilmu Pengetahuan Sosial, “Belajar untuk Menggunakan Ilmu Pengetahuan Sosial”, dan memprosesnya kepada sebuah seri unit di mana para siswa dapat mengaplikasikan prosedur ilmu pengetahuan tersebut dan konsep-konsep tingkah laku/perilaku manusia. “Menemukan Perbedaan”, “Tingkah Laku Bersahabat dan Tidak Bersahabat”, “Menjadi Sesuatu Hal”, dan “Saling Mempengaruhi Satu Sama Lain”.
Hal pertama distruktur untuk memperkenalkan para siswa kepada metode-metode Ilmu Pengetahuan Sosial seperti hal-hal berikut:
1. “Apakah itu perilaku teladan?” (bagaimana mendapatkan contoh-contoh perilaku tersebut?)
2. “Tiga cara untuk menggunakan penelitian” (memperkenalkan anak-anak kepada penggambaran, keterlibatan dan nilai-nilai pertimbangan serta perbedaan di antara mereka)
3. “Sebab dan Akibat” (memperkenalkan keterlibatan sebab musabab, pertama-tama dalam hubungannya dengan fenomena fisik, juga hubungannya dengan perilaku manusia)
4. “Penyebab yang Beragam” (mengajarkan bagaimana berurusan dengan beberapa faktor simultan yang umum. Sebagai contoh, anak-anak membaca dan menganalisa sebuah cerita di mana karakter sentral/ pusatnya memiliki beberapa motivasi untuk sebuah tindakan yang sama). (Lippit, Fox and Schaible, 1969a, pp. 24-25)

Anak-anak membandingkan analisa sampel mereka agar mereka dapat memeriksa penelitiannya dan saling ikut serta dalam kegiatan dan dapat menyadari masalah penerimaan persetujuan pengamatan/observasi. Mereka juga belajar bagaimana menganalisa interaksi melalui teknik analisis sirkular.
Akhirnya, serangkaian seri aktivitas memperkenalkan anak-anak kepada percobaan dengan psikologi sosial yang telah menurun teori-teori menarik tentang bersahabat tidaknya suatu perilaku serta tentang kerjasama dan persaingan.
Pendekatan ini berfokus kepada pembelajaran anak terhadap interaksi manusia, menyediakan sebuah frame akademis tentang referensi-referensi dan teknik-teknik untuk melukiskan dan membawakan hal-hal yang perlu ditanyakan dan melibatkan siswa dalam penelitian perilaku gurunya dan apa saja yang ada di sekelilingnya. Dan tujuan dari itu semua adalah mencapai tingkatan dimana siswa dapat menarik beberapa karakteristik dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Jadi,nilai-nilai itu sendiri adalah hubungan interpersonal sebagaimana yang ada dalam lokasi / wilayah akademisnya.
Model ini memiliki kemampuan penerapan yang luas, akan tetapi sayangnya model ini amat bergantung pada materi-materi pertanyaan yang terorientasi (pada area investigasi), yang mana sangat jarang ada di dalam suatu ruangan kelas, karena teks pengajarannya standar. Bagaimanapun juga, setiap area mata pelajaran memiliki setidaknya satu seri teks yang berupa pertanyaan terorientasi atau satu seri yang mudah diadaptasi dari model ini. Seorang instruktur dengan pemahaman yang jelas tentang model ini akan dengan mudahnya melihat materi instruksional, dengan sedikit penyusunan, dia akan dapat menyediakan suatu area penelitian yang sesuai. Instruktur-instruktur yang memilki cukup ilmu pengetahuan pada bidang disiplin ilmunya akan dapat menyusun materi mereka sendiri.

Efek Instruksi dan Pemeliharaannya
Model pertanyaan Ilmu Pengetahuan Biologi (Gambar 12.11) dirancang untuk mengajarkan proses penelitian Biologi, untuk mengetahui cara para siswa dalam memproses informasi dan untuk memelihara komitmen kepada pertanyaan-pertanyaan Ilmu Pengetahuan. Hal ini mungkin saja memelihara keterbukaan pikiran dan sebuah kemampuan untuk menggantung penilaian dan menyeimbangkan alternatif-alternatif lainnya. Melalui penekanan pada komunitas di sekolah, hal ini juga dapat memelihara semangat kerja sama dan kemampuan untuk bekerja dengan orang lain.
Model penyelidikan Ilmu Pengetahuan/ Sains telah dibangun untuk digunakan pada siswa dari segala usia, dari masa Taman Kanak-Kanak sampai tingkat perguruan tinggi (Metz, 1995). Inti dari tujuan ini adalah untuk mengajarkan proses yang esensial dari ilmu pengetahuan dan bersama-sama dengan kebanyakan konsep disiplin dari informasi yang telah dikembangkan tersebut.
Riset dalam model-model itu telah senantiasa difokuskan kepada semua kurikulum yang telah diimplementasikan dalam kurun waktu lebih dari satu tahun, menggunakan model-model yang konstan dengan materi-materi yang tepat. Hal yang pertama, guru yang akan menggunakan mereka harus terikat dalam pembelajaran intensif baik secara akademis maupun dalam semua model pertanyaan. Hal yang kedua adalah di mana model-model tersebut akan diimplementasikan dengan perhatian yang cukup kepada pendidikan guru dan proses pengajaran, hasilnya benar-benar mengesankan (Bredderman, 1981; Elnemr, 1979).

MASA DEPAN PENGAJARAN MODEL INDUKTIF
Banyak model penyelidikan yang sekarang ini sedang dalam proses yang mungkin terlebih dahulu memikirkan bagaimana siswa dapat belajar membangun kategori, membuat kesimpulan, dan mengembangkan keterampilan mempersatukan dan memikirkan sebab musabab yang lebih efektif. Papert dan yang lain sedang bereksprimen dengan sejumlah strategi baru. Teori tentang “multiple intelligences” dapat muncul ke cara berfikir lain tentang berfikir.
Komputer membuat database luas, tersedia bagi siswa yang akan membuat jenis formasi konsep kompleks yang lebih mudah untuk diselidiki dan dengan pengembangan sistem pendukung yang lebih berbelit-belit dan mungkin lebih kuat.

INQUIRY TRAINING
Inquiry training dikembangkan oleh Richard Suchman (1962) untuk mengajarkan siswa proses penyelidikan dan menjelaskan kejadian yang tidak umum. Model Suchman adalah siswa melalui versi miniatur jenis-jenis prosedur yang digunakan pelajar untuk mengatur pengetahuan dan mengembangkan prinsip. Berdasarkan konsep metode ilmiah, dia membangunnya menjadi model instruksional yang disebut inquiry training.

PENELITIAN
Inquiry training didesain untuk membawa siswa secara langsung ke proses ilmiah melalui latihan-latihan yang memadatkan proses ilmiah dalam waktu yang singkat. Apa efeknya? Schlenker melaporkan bahwa inquiry training merupakan hasil dari meningkatnya pemahaman sains,produktifitas dalam berfikir kreatif, dan keahlian untuk mendapatkan dan menganalisa informasi. Dia melaporkan bahwa inquiry training tidak lebih efektif daripada metode pengajaran biasa dalam penerimaan informasi, namun inquiry training ini sama efisiennya dengan hafalan atau ceramah yang didampingi dengan pemahaman laboratorium. Ivany (1969) dan Collins (1969) melaporkan bahwa metode ini bekerja dengan sangat baik ketika konfrontasi kuat, timbul tanda tanya yang kuat, dan ketika materi yang digunakan siswa untuk menyelidiki topik di bawah pertimbangan khususnya bersifat pelajaran. Baik siswa sekolah dasar maupun sekolah lanjutan mendapatkan manfaat dari model tersebut (Voss, 1982). Dalam sebuah studi, Elefant (1980) berhasil melaksanakan model tersebut dengan anak tuli, yang memberi kesan bahwa metode itu dapat berhasil dengan siswa yang mempunyai cacat pancaindera.

ORIENTASI PADA MODEL
ASUMSI DAN TUJUAN
Inquiry training berasal dari sebuah keyakinan dalam perkembangan siswa mandiri, modelnya memerlukan partisipasi aktif dalam penyelidikan sains.Anak-anak mempunyai rasa ingin tahu dan ingin berkembang, dan inquiry training mempergunakan eksplorasi penuh semangat alami yang dimiliki anak-anak tersebut, memberi mereka arah spesifik sehingga mereka lebih bersemangat menyelidiki area baru. Tujuan umum inquiry training adalah menolong siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keahlian yang diperlukan untuk menimbulkan pertanyaan dan mencari jawaban pertanyaan yang berasal dari keingintahuan mereka. Karena itulah, Suchman tertarik menolong siswa menyelidiki secara mandiri, tetapi dengan cara disiplin ilmu. Dia ingin siswa bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi dan memperoleh serta memproses data secara logis, dan dia ingin mereka mengembangkan strategi intelektual umum yang dapat mereka gunakan untuk mendapatkan mengapa sesuatu seperti itu.
Inquiry training dimulai dengan memberikan sebuah peristiwa yang membingungkan kepada siswa. Suchman percaya bahwa siswa yang menghadapi situasi tersebut secara alami termotivasi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kita dapat menggunakan kesempatan yang disediakan oleh penyelidikan alami untuk mengajarkan prosedur penyelidikan disiplin ilmu.
Secara Bruner dan Taba, Schuman percaya bahwa siswa dapat semakin bertambah sadar dengan proses penyelidikan mereka dan mereka dapat secara langsung diajarkan prosedur sains. Seringkali kita sema menyelidiki secara intuitif, namun Suchman meras kita tidak dapat menganalisa dan meningkatkan pemikiran kita jika kita tidak menyadarinya.
Lebih jauh Suchman percaya bahwa penting kiranya membawa siswa ke sikap bahwa semua pengetahuan itu bersifat sementara. Siswa mengembangkan teori dan penjelasan. Beberapa tahun kemudian, teori dan penjelasan ini dikesampingkan dengan teori baru. Tidak ada jawaban permanen. Kita dapat lebih pintar dalam penjelasan kita dan kebanyakan masalah dapat dipertanggungjawabkan dengan penjelasan yang masuk akal. Siswa seharusnya menyadari dan merasa nyaman dengan ambiguitas yang dibawa penelitian. Mereka seharusnya juga sadar bahwa pandangan orang kedua akan memperkaya pola pikir kita. Perkembangan ilmu pengetahuan dimudahkan dengan pertolongan dan ide rekan kerja kita jika kita dapat belajar mentoleransi pandangan yang berbeda. Karena itulah, teori Suchman yaitu:
1. Siswa menyelidiki secara alami ketika mereka bingung
2. Mereka menjadi sadar dan belajar untuk menganalisa strategi berfikir mereka
3. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan ke strategi siswa yang sudah mereka miliki.
4. Penyelidikan dengan kerja sama memperkaya pola pikir dan menolong siswa mempelajari sifat alami pengetahuan yang sementara dan timbul serta menghargai penjelasan orang lain.

TINJAUAN STRATEGI MENGAJAR
Mengikuti pendapat Suchman bahwa setiap individu mempunyai motivasi alami untuk menyelidiki, model training inquiry training dibangun sekitar pertentangan intelektual. Siswa dihadapkan dengan situasi yang membingungkan dan menyelidikinya. Segala sesuatu yang bersifat misterius, tidak diharapkan, atau tidak diketahui merupakan inti dari peristiwa yang tidak lazim. Karena tujuan utamanya adalah agar siswa mengalami terciptanya pengetahuan baru, situasi yang dihadapi seharusnya berdasarkan ide yang dapat ditemukan. Dalam contoh berikut ini, membengkokkan keping logam yang diletakkan di atas nyala api memulai sebuah penelitian.
Sebuah keping tersebut dari lapisan yang sepertinya bukan logam (biasanya baja dan kuningan) yang telah dilas membentuk sebuah pisau, dengan sebuah pegangan diujungnya bentuknya seperti pisau tipis atau spatula. Ketika benda itu dipanaskan, logamnya mengembang tetapi kecepatan mengembangnya tidak sama diantara dua logam tersebut. Hasilnya setengah bagian tebal keping berlapis ini menjadi agak lebih panjang daripada setengah bagian yang lain dan karena dua bagian itu saling melekat, tekanan di dalam mendorong pisau itu melengkung dan bagian luar diisi oleh logam yang saling mengembang. (Suchman, 1962, p. 28)
Suchman dengan sengaja memilih peristiwa yang hasilnya cukup mengejutkan agar sulit bagi siswa untuk bersikap acuh tak acuh terhadap penemuan tersebut. Biasanya benda yang dipanaskan tidak membengkok menjadi kurva besar. Ketika keping logam ini melengkung, secara alami siswa ingin tahu mengapa. Siswa tidak dapat menolak solusi itu jelas, mereka harus bekerja untuk menjelaskan situasi tersebut, dan hasil dari pekerjaan itu merupakan pengetahuan, konsep, dan teori baru.
Setelah memberikan situasi yang membingungkan, siswa mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru. Namun, pertanyaan tersebut harus dijawab dengan ya atau tidak. Siswa tidak boleh meminta guru mereka menjelaskan kejadian pada mereka. Mereka harus memperhatikan dan menyusun penyelidikan mereka untuk menyelesaikan masalah. Dalam hal ini, setiap pertanyaan menjadi hipotesis yang terbatas. Karena itu, siswa tidak boleh bertanya, “bagaimana panas mempengaruhi logam?” tetapi harus bertanya “apakah panas lebih besar daripada titik lebur logam?” Pertanyaan pertama bukan pernyataan spesifik untuk informasi yang diinginkan; pertanyaan ini meminta guru untuk memberikan penjelasan. Pertanyaan kedua meminta siswa meletakkan beberapa faktor bersaman – panas, perubahan, cairan. Siswa harus meminta guru untuk memperjelas hipotesis yang sudah dia kembangkan (panas menyebabkan perubahan jadi cairan).
Siswa terus bertanya. Kapanpun mereka memberikan pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan ya atau tidak, guru mengingatkan mereka dan menunggu sampai mereka menemukan cara untuk bertanya dalam bentuk yang sesuai. Komentar seperti “Dapatkah kamu mengulang pertanyaan ini sehingga saya bisa menjawabnya dengan ya atau tidak?” adalah respon guru yang umum pada saat siswa salah dalam memberikan pertanyaan saat penyelidikan.
Sepanjang kegiatan penyelidikan, siswa diajarkan bahwa tahap pertama penyelidikan adalah memperjelas fakta situasi – sifat dan identitas objek, peristiwa dan kondisi disekitar peristiwa yang membingungkan itu. Pertanyaan, “Apakah keping itu terbuat dari logam?” membantu memperjelas fakta – dalam hal ini, sifat dari objek. Pada saat siswa sadar akan fakta, hipotesis seharusnya sudah mereka pikirkan dan memandu penyelidikan lebih jauh. Dengan menggunakan pengetahuan mereka tentang sifat-sifat objek siswa dapat merubah pertanyaan mereka ke hubungan antar variabel di situasi tersebut. Mereka dapat melaksanakan eksprimen lisan atau sebenarnay untuk menguji hubungan sebab akibat ini, memilih data baru atau mengatur data yang ada dengan cara baru untuk melihat apa yang akan terjadi jika hal itu dilakukan secara berbeda. Contohnya mereka dapat bertanya, “Jika saya mengecilkan api, apakah logamnya tetap bengkok?” Namun lebih baik lagi, mereka benar-benar dapat melakukannya. Dengan memberikan sebuah kondisi baru atau merubah yang sudah ada, siswa memisahkan variabel dan mempelajari bagaimana mereka saling mempengaruhi.
Penting bagi siswa dan guru mengenali perbedaan antara pertanyaan yang berusaha memperjelas “apakah” dan pertanyaan atau kegiatan yang “melakukan eksprimen” dengan hubungan antara variabel. Masing-masing penting untuk perkembangan teori, namun fakta yang terkumpul seharunya mengikuti munculnya hipotesis. Jika informasi tentang sifat situasi tidak lengkap dan unsurnya tidak jelas, siswa sepertinya akan bingung dengan banyaknya kemungkinan hubungan sebab akibat.
Jika seorang anak langsung mencoba membuat hipotesis hubungan kompleks antara semua variabel yang kelihatannya relevan untuknya, dia dapat menguji untuk jangka waktu yang tak terbatas tanpa kemajuan yang jelas, tetapi dengan memisahkan variabel dan mengujinya secara terpisah, dia dapat menghilangkan variabel yang tidak relevan dan menemukan hubungan yang ad antara setiap variabel bebas yang relevan (seperti temperatur pisau) dan variabel bergantung (dalam kasus ini misalnya membengkoknya pisau) (Suchman, 1962, p. 15-16).

Akhirnya, siswa mencoba mengembangkan hipotesis yang sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi (misalnya, “keping itu terbuat dari dua logam yang ditempelkan. Logam itu mengembang dengan waktu yang berbeda, dan ketika logam itu dipanaskan, satu logam yang lebih mengembang menggunakan tekanan ke logam yang lain sehingga secara bersamaan kedua logam tersebut bengkok.”) Bahkan sesudah verifikasi dan kegiatan eksprimen yang lama banyak penjelasan yang mungkin, dan siswa didorong untuk tidak puas dengan penjelasan pertama yang muncul sesuai dengan fakta.
Penekanan pada model ini sudah jelas ada pada kesadaran dan penguasaan proses penyelidikan, bukan isi situasi masalah tersebut. Walaupun model ini seharusnya menjadi cara pemerolehan dan penggunaan informasi yang sangat menarik dan efektif, guru tidak dapat terlalu berfokus pada lingkup subyek atau mendapatkan jawaban yang benar. Pada kenyataannya hal ini akan merusak seluruh semangat penyelidikan sains yang menginginkan sekumpulan pelajar menyelidiki secara bersama-sama untuk penjelasan yang kuat dan akurat phenomena sehari-hari.

MODEL PENGAJARAN SYNTAX
Inquiry training mempunyai beberapa tahap. Tahap pertama adalah adanya situasi membingungkan yang dihadapi siswa. Tahap kedua dan ketiga adalah upaya pengumpulan data, penjelasan dan eksprimen. Di tahap kedua ini, siswa memberikan sejumlah pertanyaan tentang lingkungan situasi masalah. Pada tahap keempat, siswa mengatur informasi yang mereka dapatkan dan mencoba menjelaskan ketidakcocokan. Akhirnya di tahap ke lima, siswa menganalisis strategi penyelesaian masalah yang mereka gunakan selama penyelidikan.
Tahap pertama meminta guru memberikan situasi masalah dan menjelaskan prosedur penyelidikan (tujuan dan prosedur pertanyaan ya atau tidak). Formulasi kejadian yang tidak cocok seperti masalah keping yang terdiri dari dua logam memerlukan pemikiran, walaupun srateginya dapat berdasarkan pada masalah sederhana, teka-teki atau sulap, yang tidak memerlukan banyak dasar pengetahuan. Tentu saja, tujuan utama adalah membuat siswa, khususnya siswa di kelas yang lebih tinggi tingkatnya, mengalami sendiri terciptanya pengetahuan baru, seperti yang dilakukan pelajar. Namun penyelidikan awal dapat berdasarkan ide yang sangat sederhana.
Tahap kedua, verifikasi adalah proses dimana siswa mengumpulkan informasi tentang sebuah peristiwa yang mereka lihat atau alami. Dalam eksprimen, tahap ketiga, siswa memperkenalkan unsur-unsur baru ke dalam situasi untuk melihat jika peristiwa itu terjadi secara berbeda. Walaupun verifikasi dan eksprimen disebutkan sebagai tahap yang berbeda model ini, pemikiran siswa dan jenis pertanyaan yang mereka ajukan biasanya bergantian diantara dua aspek pengumpulan data.
Tahap ke empat, guru mempersilakan siswa mengatur data dan membentuk suatu penjelasan. Beberapa siswa mengalami masalah membuat langkah cerdik antara memahami informasi yang telah mereka kumpulkan dan membentuk penjelasan yang jelas. Mungkin mereka memberikan penjelasan yang tidak mencukupi, menghilangkan informasi penting. Kadang-kadang beberapa teori atau penjelasan mungkin berdasar pada data yang sama. Dan kasus ini, meminta siswa mengungkapkan penjelasan mereka merupakan hal yang berguna sehingga kemungkinan hipotesis jadi jelas.

SISTEM SOSIAL
Suchman menginginkan sistem sosial yang koperatif dan teliti. Walaupun model inquiry training terstruktur, dengan sistem sosial yang secara garis besar di kontrol oleh guru, lingkungan intelektual terbuka untuk semua gagasan yang relevan; guru dan siswa sama-sama berpartisipasi dengan memperhatikan gagasan. Selain itu, guru harus mendorong siswa memulai penyelidikan sebanyak mungkin. Pada saat siswa mempelajari prinsip penyelidikan, struktur penyelidikan itu sendiri akan berkembang mencakup penggunaan sumber materi; percakapan dengan siswa lain, eksprimen, dan diskusi dengan guru.
Sesudah melakukan praktek penyelidikan yang diatur guru, siswa dapat melaksanakan penyelidikan yang lebih cenderung dikontrol oleh siswa. Sebuah peristiwa yang bisa membangkitkan semangat dapat diseting di kelas, dan siswa menyelidiki secara individu atau dalam bentuk kelompok, bergantian antara satu sesi penyelidikan dan pengumpulan data dengan bantuan sumber materi. Dengan cara ini siswa dapat memilih, melanjutkan penyelidikan atau mengulangnya dan belajar secara mandiri. Penggunaan model inquiry training khususnya cocok untuk setting kelas terbuka dimana guru bertindak sebagai manager dan orang yang memonitor.
Di tahap awal penyelidikan peran guru adalah memilih (atau membentuk) situasi masalah, untuk memisahkan penyelidikan berdasarkan prosedur penyelidikan, respon terhadap penyelidikan siswa dengan informasi yang diperlukan, untuk menolong penyelidik fokus dipenyelidikan mereka, dan untuk memudahkan diskusi masalah situasi diantara para siswa.

PRINSIP REAKSI
Reaksi guru paling penting adalah selama tahap kedua dan ketiga. Pada tahap kedua tugas guru adalah menolong siswa untuk menyelidiki tetapi tidak melakukan penyelidikan untuk mereka. Jika guru diberi pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak maka guru harus meminta siswa membuat kembali pertanyaan sehingga mereka dapat mengumpulkan data dan menghubungkan mereka dengan situasi masalah. Jika perlu guru dapat tetap melanjutkan penyelidikan dengan membuat informasi baru yang tersedia untuk kelompok dan dengan memusatkan perhatian pada kejadian tertentu atau dengan memberikan pertanyaan. Selama tahap terakhir, tugas guru adalah menjaga agar penyelidikan tetap menjadi sebuah proses investigasi.

PRINSIP PENDUKUNG
Dukungan optimal berupa adanya masalah, guru yang memahami proses dan strategi penyelidikan, dan materi yang berhubungan dengan masalah.

APLIKASI
Walaupun inquiry training pada awalnya dikembangkan untuk ilmu alam, prosedur model ini juga dapat digunakan untuk semua bidang topik; topik apapun yang dapat dibentuk menjadi situasi yang membingungkan adalah suatu bentuk yang bisa dijadikan inquiry training. Di literatur, cerita atau plot misteri pembunuhan dan fiksi ilmu pengetahuan merupakan suatu situasi membingungkan yang menarik. Artikel surat kabar tentang situasi aneh atau tidak mungkin dapat dapat digunakan untuk membentuk peristiwa stimulus. Seorang pengarang beberapa saat yang lalu berada di restoran cina dan bingung dengan pertanyaan, “Bagaimana fortune (hal yang menguntungkan) ada di kue fortune (bagus, enak) padahal kuenya belum terlihat matang?” Tampak bagi kita pertanyaan ini dapat menjadi topik inquiry training yang menarik bagi anak-anak. Ilmu sosial juga menawarkan berbagai kemungkinan untuk inquiry training.
Pembentukan situasi yang membingungkan merupakan tugas penting; karena situasi ini mengirimkan isi kurikulum ke masalah yang akan diselidiki. Ketika obyek atau materi lain tidak tersedia atau tidak sesuai dengan situasi masalah, kami menyarankan guru membuat problem statement (pernyataan masalah) dan fact sheet (lembar fakta) untuk mereka sendiri. Problem statement menggambarkan peristiwa yang tidak lazim dan menyediakan informasi yang sebelumnya diberikan kepada siswa. Fact sheet memberikan informasi lebih jauh kepada guru tentang masalah dan guru menggunakannya untuk menjawab pertanyaan siswa.

PENYESUAIAN TINGKAT UMUR
Latihan penyelidikan dapat digunakan pada anak-anak berbagai usia, tetapi tiap grup umur membutuhkan penyesuaian. Ketika telah melihat metode yang sukses pada anak-anak Taman Kanak-Kanak namun menemui kesulitan pada anak kelas tiga. Berdasarkan aspek-aspek lain mengenai mengajar, tiap grup dan tiap siswa adalah berbeda. Bagaimanapun, contoh dapat disederhanakan dalam beberapa cara hingga siswa dapat memperhatikan pada tiap tahap.
Untuk siswa yang sangat muda, sangat baik untuk menjaga isi permasalahan tetap sederhana-mungkin dengan lebih perhatian pada penemuan daripada sebuah dasar dari penyebab. Situasi masalah seperti “Apa yang ada di dalam kotak?” atau “Apa benda yang tidak biasa ini?” atau “Mengapa satu buah telur bergulung secara berbeda dengan yang lainnya?” lebih panas. Seorang guru yang kita tahu menunjukkan pada siswanya sebuah gambar tupai terbang dari sebuah majalah untuk guru sains. Karena kebanyakan dari kita percaya mamalia tidak dapat terbang, ini merupakan sebuah momen yang benar-benar berkebalikan. Ia meminta siswa untuk mengutarakan sebuah penjelasan untuk fenomena ini menggunakan prosedur penyelidikan.
Bruce dan Bruce (1992) menyediakan banyak kejadian yang berkebalikan untuk digunakan dalam pembelajaran sosial, item yang dapat digunakan pada semua tingkat dan pada sebuah lingkup luas dari topik pembelajaran sosial umum.
Banyak buku sains siswa diisi dengan percobaan sains sederhana, banyak dari percobaan-percobaan itu yang cocok dengan tingkat primer. Cerita misteri dan teka-teki bekerja dengan baik sebagai perangsang untuk anak-anak muda. Cara lain untuk menyesuaikan pelatihan penyelidikan untuk anak-anak muda adalah menggunakan bahan visual-tiang untuk petunjuk yang menyederhanakan rangsangan dan mengurangi persyaratan untuk ingatan. Sangat berguna untuk mengarahkan untuk hanya satu atau dua obyektif spesifik dalam sebuah sesi pelatihan penyelidikan tunggal. Awalnya (pada siswa semua umur) adalah baik untuk memulai dengan sebuah permainan sederhana yang memerlukan pertanyaan ya atau tidak. Permainan ini akan memberikan siswa kepercayaan diri yang bahwa mereka dapat merumuskan pertanyaan dan menghindari pertanyaan teori langsung. Beberapa guru yang kita tahu menggunakan tas misteri, lainnya memainkan “Aku sedang memikirkan sesuatu yang aku kenakan. Tebak apakah itu” Permainan menebak sederhana seperti ini juga memberikan siswa praktik dalam membedakan pertanyaan teori (“Apa ini bajumu?”) dari pertanyaan atribut (“Apakah ini terbuat dari katun?”). Kami merekomendasikan guru mengenalkan dan menekankan tiap elemen dari penyelidikan secara terpisah. Awalnya guru akan menggunakan pertanyaan ya atau tidak. Kemudian mereka dapat meminta siswa untuk mengubah pertanyaan teori menjadi percobaan. Satu persatu guru dapat mengetatkan paksaan dari penyelidikan sebagaimana mereka mengajarkan siswa tiap elemen. Mencoba untuk menjelaskan dan melaksanakan semua elemen sekaligus akan hanya membuat frustasi siswa dan guru.
Siswa yang lebih tua lebih baik dalam menangani proses penyelidikan tersebut, dan bahan subyek mereka-terutama sains-lebih siap meminjamkan dirinya sendiri untuk penyelidikan. Meskipun ada kejadian berkebalikan yang lebih cocok dalam sekolah dasar yang lebih tinggi dan kurikulum sekunder, biasanya perlu gurunya untuk mengubah materi yang tersedia dari sebuah mode pertunjukan menjadi mode penyelidikan yang ada untuk membuat kejadian berkebalikan.

PENYESUAIAN LINGKUNGAN BELAJAR
Seperti banyak contoh lain, terutama contoh pemroses informasi, pelatihan penyelidikan dapat diajarkan pada sebuah setting yang berorientasi guru atau digabungkan untuk menjadi lebih berorientasi pada diri sendiri, lingkungan pusat belajar. Kejadian berkebalikan dapat dikembangkan melalui maksud cetakan, film, atau suara, dan kartu tugas mengarahkan siswa untuk menanggapi berdasarkan contoh yang dapat dikembangkan. Penyelidikan dapat dilaksanakan melalui sebuah periode dari beberapa hari, dan hasil dari penyelidikan siswa lain dapat dibagi. Siswa harus mempunyai akses menuju sumber daya yang layak, dan mereka mungkin bekerja bersama dalam grup. Siswa mungkin juga mengembangkan kejadian berkebalikan dan melaksanakan sesi penyelidikan untuk teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar