Selasa, 16 Juni 2009

PENTINGNYA SUPERVISI PENDIDIKAN

Oleh : Abdul Khaliq
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagaimana yang telah digariskan melalui Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan (pre-service education) maupun program dalam jabatan (inservice education). Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan kualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus menerus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara profesional. Selain itu, pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Itulah sebabnya ulasan mengenai perlunya supervisi pendidikan itu bertolak dari keyakinan dasar bahwa guru adalah suatu profesi. Suatu profesi selalu bertumbuh dan berkembang. Perkembangan profesi itu ditentukan oleh faktor internal maupun eksternal.


PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Tujuan Supervisi
Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsa terakhir ini. Dahulu istilah yang banyak digunakan untuk kegiatan serupa adalah inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan, supervisi merupakan bagian dari proses administrasi dan manajemen. Kegiatan supervisi melengkapi fungsi-fungsi administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan.
Dilihat dari kelahirannya, supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super yang berarti di atas dan vision yang berarti melihat, yang pelaksanaannya bukanlah untuk mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
Kimbal Wiles merumuskan supervisi sebagai bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. N.A. Ametembun merumuskan supervisi sebagai pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan (termasuk pengajaran) pada umumnya dan peningkatan mutu pada khususnya. Sedangkan Thomas H. Briggs dan Josep Justman merumuskan supervisi sebagai usaha yang sistematis dan terus menerus untuk mendorong dan mengarahkan pertumbuhan diri guru yang berkembang, secara lebih efektif dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan dengan murid-murid di bawah tanggung jawabnya.
Jadi, kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya agar kualitas pembelajarannya meningkat. Sebagai dampak meningkatnya kualitas pembelajaran, tentu dapat meningkat pula prestasi belajar siswa, dan itu berarti meningkatlah kualitas lulusan sekolah itu.
Sedangkan tujuan khusus dari kegiatan supervisi pendidikan di antaranya adalah; a) membina guru-guru untuk lebih memahami tujuan umum pendidikan. Dengan demikian agar tidak ada anggapan tentang adanya suatu mata pelajaran penting/tidak penting, sehingga setiap guru tetap maksimal dalam mengajari siswanya; b) membina guru-guru guna mengatasi problem-problem siswa demi kemajuan prestasi belajarnya; c) membina guru-guru dalam mempersiapkan siswa-siswanya untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif, kreatif, etis serta religius; dan lain sebagainya.
Menurut keputusan Menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, termasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penilik sekolah, dan para pengawas ditingkat kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.
B. Pentingnya Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pada saat ini pendidikan untuk semua (educaton for all) akan menjadi dambaan setiap orang. Pendidikan seutuhnya (holistic education) akan banyak dibicarakan. Manusia akan sadar bahwa hidup ini membutuhkan belajar, untuk memperoleh pengalaman berarti menemukan kemanusiaannya manusia. Orang yang belajar memerlukan bantuan dalam proses pembelajaran. Pembelajar mendambakan orang yang mampu mendapat bantuan (assisting), mendapat suport (supporting), dan diajak untuk tukar menukar pendapat (sheering).
Dibidang pendidikan dan pengajaran diperlukan penyelia (supervisor) yang dapat berdialog serta membantu pertumbuhan pribadi dan profesi guru agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesi. Berbagai usaha perbaikan dan peningkatan kualitas guru melalui baik lembaga pendidikan maupun melalui penataran pendidikan dan latihan. Semua usaha itu mengarah kepada pengadaan tenaga guru yang profesional.
Schein mengemukakan ciri-ciri profesional sebagai berikut: (1) bekerja sepenuhnya dalam jam-jam kerja (fulltime), (2) pilihan pekerjaan itu didasarkan pada motivasi yang kuat, (3) memiliki seperangkat pengetahuan, ilmu, dan keterampilan khusus yang diperoleh lewat pendidikan dan pelatihan yang lama, (4) membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan atau menangani klien, (5) pekerjaan berorientasi kepada pelayanan, bukan untuk kepentingan pribadi, (6) pelayanan itu didasarkan kepada kebutuhan objektif klien, (7) memiliki otonom untuk bertindak dalam menyelesaikan persoalan klien, (8) menjadi anggota profesi, sesudah memenuhi persyaratan atau kriteria tertentu, (9) memiliki kekuatan dan status yang tinggi sebagai ekspert dalam spesialisasinya, dan (10) keahlian itu tidak boleh diadvertensikan untuk mencari klien.
Sedangkan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) menyimpulkan ciri-ciri utama profesi adalah (1) memiliki fungsi dan signifikansi sosial, (2) memiliki keahlian dan keterampilan tingkat tertentu, (3) memperoleh keahlian dan keterampilan melalui metode ilmiah, (4) memiliki batang tubuh disiplin ilmu tertentu, (5) studi dalam waktu lama di perguruan tinggi, (6) pendidikan ini juga merupakan wahana sosialisasi nilai-nilai profesional dikalangan mahasiswa/siswa yang mengikutinya, (7) berpegang teguh kepada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi dengan sanksi-sanksi tertentu, (8) bebas memutuskan sendiri dalam memecahkan masalah bertalian dengan pekerjaannya, (9) memberi layanan sebaik-baiknya kepada klien dan otonom dari campur tangan pihak luar, dan (10) mempunyai prestise yang tinggi di masyarakat dan berhak mendapat imbalan yang layak.
Bila diperhatikan ciri-ciri profesi tersebut di atas tampak bahwa profesi pendidik tidak mungkin dapat dikenakan kepada sembarang orang yang dipandang oleh masyarakat umum sebagai pendidik. Jadi, ditinjau dari segi rumusan profesi sudah jelas dapat dibedakan antara pendidik dalam keluarga dan di masyarakat dengan pendidik di lembaga-lembaga pendidikan, yaitu guru.
Sedangkan menurut Piet A. Sahertian, guru yang profesional memiliki ciri-ciri antara lain: (1) memiliki kemampuan sebagai ahli dalam bidang mendidik dan mengajar, (2) memiliki rasa tanggung jawab, yaitu mempunyai komitmen dan kepedulian terhadap tugasnya; dan (3) memiliki rasa kesejawatan dan menghayati tugasnya sebagai suatu karir hidup serta menjunjung tinggi kode etik jabatan guru.
Ada dua metapora untuk menggambarkan pentingnya pengembangan sumber daya guru. Pertama, jabatan guru di umpamakan dengan sumber air. Sumber air itu harus terus menerus bertambah agar sungai itu dapat mengalirkan air terus menerus. Bila tidak, maka sumber air itu akan kering.Demikianlah bila seorang guru tidak pernah membaca informasi yang baru, tidak pernah menambah ilmu pengetahuan tentang apa yang diajarkan, maka ia tidak mungkin memberi ilmu dan pengetahuan dengan cara yang lebih menyegarkan kepada peserta didik. Kedua, jabatan guru diumpakan dengan sebatang pohon buah-buahan. Pohon itu tidak akan berbuah lebat, bila akar induk pohon itu tidak menyerap zat-zat makanan yang berguna bagi pertumbuhan pohon itu. Pohon itu tidak akan berbuah dan menghasilkan buah yang berlebat dan bermutu tinggi. Begitu juga dengan jabatan guru yang perlu bertumbuh dan berkembang. Setiap guru perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan pengembangan profesi adalah suatu conditio sine qua non. Itulah sebabnya setiap guru harus belajar terus menerus, membaca informasi yang paling baru, mengembangkan ide-ide yang kreatif. Bila tidak, guru itu tidak mungkin mengajar dengan penuh gairah dan penuh kebugaran (fitness). Guru seperti itu diumpamakan dengan bekas rodak gerobak pada tanah yang basah.
Gairah dan semangat kerja yang tinggi memungkinkan guru dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang menyenangkan peserta didik. Artinya guru seperti tanah yang gembur dan subur, sedangkan peserta didik seperti benih yang berkualitas dan berkemampuan untuk bertumbuh. Itulah sebabnya diperlukan usaha mengembangkan sumber daya pendidikan, khusus sumber daya manusia, salah satunya ialah tenaga guru.
C. Perlunya Supervisi Pengembangan Sumber Daya Guru
Perlunya pengembangan sumber daya guru dapat didekati dari dua sudut pandang. Pertumbuhan dari dalam diri guru itu sendiri. Dalam diri guru itu ada sesuatu kekuatan untuk berkembang suatu elan vital (tenaga hidup) atau vitalitas hidup. Dorongan asasi terungkap dalam daya berpikir abstrak, imajinatif dan kreatif, serta komitmen dan kepedulian. Kebanyakan dorongan ini sulit ditampakkan pada orang seorang dalam memilih menjadi guru. Ini disebabkan daya tarik dari jabatan guru tidak menjanjikan suatu harapan yang menarik. Pertumbuhan karena ditantang oleh faktor-faktor eksternal, yang kadangkala menjadi faktor pendorong, tapi seringkali menjadi kendala bagi guru dalam melakukan tugas didiknya. Sebenarnya perlunya bantuan supervisi terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan masyarakat.
Swearingen mengungkapkan latar belakang perlunya supervisi terletak berakar mendalam dalam kebutuhan riil masyarakat. Ia menyebutkan sejumlah latar belakang sebagai berikut:
(1) Latar belakang kultural
Pendidikan adalah bagian integral dari kebudayaan, sedangkan kebudayaan sendiri diciptakan oleh akal budi manusia. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan bertugas untuk menyeleksi pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi pribadi peserta didik. Sekolah bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha sekolah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Sekolah bertugas mengkaji kreasi dalam menciptakan kebudayaan yang bersumber dari bangsa kita sendiri. Contoh: cerita-cerita lama dari tiap suku bangsa dapat digunakan sekolah untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan dapat dipermodern sesuai dengan perkembangan zaman. Di sinilah letak perlunya supervisi bagi yang bertugas untuk mengembangkan potensi kreativitas para peserta didik serta mengkoordinasi semua usaha dalam rangka mengembangkan budaya sekolah.
(2) Latar belakang filsafat
Suatu sistem pendidikan yang berhasil guna dan berdaya guna bila ia berakar mendalam pada nilai-nilai yang ada dalam pandangan hidup sesuatu bangsa. Di Indonesia sistem Among seperti yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa yang mendasarkan pendidikannya pada filsafat dan budaya nasional (pada saat itu Jawa). Ia mendasarkan kepada asas: a) kodrat alam, b) kebebasan, c) kemanusiaan, d) kebudayaan, dan e) kebangsaan.
Dalam kontek ini para guru perlu mendapat pembinaan dari para pembina pendidikan yang disebut dengan supervisor. Supervisor bertugas membantu guru-guru dalam memberikan penjelasan mengenai program-program operasional agar mudah dimengerti oleh guru-guru. Dari sini perlu ada orang yang berfungsi sebagai supervisor. Apakah dia guru ahli (master teacher), apakah kepala sekolah, apakah pengawas atau petugas lainnya yang mampu membantu guru-guru dalam melaksanakan tugas mengajar dan mendidiknya.
(3) Latar belakang psikologis
Secara psikologis supervisi itu terletak berakar mendalam pada pengalaman manusia. Pengalaman diartikan sebagai kegiatan atau usaha mengembangkan arti dari peristiwa atau situasi, sehingga orang dapat memiliki cara pemecahan suatu masalah baik sekarang maupun yang akan datang. Pengalaman merupakan usaha untuk tindakan selanjutnya. Pengalaman harus dipelajari dan dialami sendiri. Pengalaman yang luas memungkinkan kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang sesuatu masalah, sehingga memperbesar kemampuan untuk mempraktekkannya.
Dalam pengalaman dan pengamatan, di lapangan sebenarnaya kebanyakan masalah yang timbul dalam proses pembelajaran di kelas bukan pada kurangnya pengetahuan tentang teknik mengajar, tapi karena putus mata rantai, yaitu hubungan-hubungan kemanusiaan yang terputus antara guru dan murid. Dalam bukunya, Menjadi Guru yang Efektif, Thomas Gordon mengemukakan bahw ada mata rantai yang putus dalam proses pembelajaran di kelas, yaitu hubungan-hubungan kemanusiaan. Oleh sebab itu secara psikologis menciptakan situasi belajar mengajar yang membangkitkan dorongan emosional berupa lambang-lambang dalam bentuk kata persetujuan seperti senyum, memberi hormat, tertawa, akan memberi semangat baru dalam proses belajar mengajar di kelas. Hal-hal seperti itu bukan saja dibutuhkan oleh peserta didik, tapi juga oleh guru-guru dan staf sekolah lainnya. Usaha untuk mendorong, dorongan emosional bagi guru-guru adalah salah satu kebutuhan dasar perlunya supervisi pendidikan.
(4) Latar belakang sosial
Dalam masyarakat demokrasi orang mengakui dan menghargai manusia punya perbedaan yang unik. Demokrasi mengakui ketermasing-masingan dan menjunjung tinggi kebersamaan. Unsur-unsur demokratis menampak diri dalam tata kehidupan sebagai berikut: a) menghargai manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang patut dihargai dan dicintai, b) menghargai martabat sebagai makhluk yang memiliki keunikan pribadi, bahwa setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. Keunikan (individualitas) manusia itu yang harus dihargai. Pendidikan harus membuat orang menghargai ketermasing-masingan seseorang sebagai individu; (agar dibedakan antara individu dan individualisme), c) tiap individu harus menghargai orang lain. Dengan demikian aspek sosialitas manusia diakui dan dijunjung tinggi. Mengakui kebersamaan bukan berarti individu harus lebur dalam kebersamaan, d) menghargai cara berfikir orang lain, walaupun bertentangan dengan pendapat diri sendiri, e) pengakuan kebebasan individu berarti mengalami bahwa di luar sendiri ada juga orang lain.
Cara kerja yang bersifat kooperatif secara bertanggung jawab merupakan suatu kerja yang unik. Dalam masyarakat demokratis orang saling menghargai pendapat orang lain, saling menolong, saling memberi kebebasan kepada orang lain, sehingga tumbuh rasa bersama dan juga aman untuk berkarya. Dalam kaitan ini setiap tugas pemimpin sebagai supervisor berfungsi membantu, mendorong, menstimulasi tiap anggota untuk bekerja bersama.
Seorang supervisor dalam melakukan tanggung jawabnya, ia harus mengembangkan potensi kreativitas dari orang yang dibina melalui cara mengikutsertakan orang lain untuk berpartisipasi bersama
(5) Latar belakang sosiologis
Masyarakat ini selalu berubah. Setiap perubahan punya pengaruh terhadap tindakan dan pola tingkah laku seseorang. Dalam era globalisasi telah terjadi pergeseran tata nilai. Salah satu nilai yang berpengaruh terhadap pendidikan masa kini ialah nilai jual. Dulu orang mengukur nilai suatu pendidikan dari nilai moral, akhlak mulia, berbudi luhur. Tetapi dalam era globalisasi, yang ditandai dengan persaingan bebas, alat ukur adalah nilai ekonomis, yaitu uang. Orang mengembangkan sekolah unggul. Apa yang terjadi bila pendidikan tidak lagi bertugas memanusiakan manusia. Sekolah bukan lagi membentuk seorang manusia, tapi membentuk sebuah manusia. Kualitas seseorang diukur dengan nilai uang.
Secara sosiologis perubahan masyarakat punya dampak terhadap tata nilai. Sekarang norma-norma kehidupan menjadi relatif. Menghadapi perubahan seperti ini guru-guru memerlukan supervisor untuk mengadakan tugas menukar ide dan pengalaman tentang mana yang terbaik dalam menghadapi perubahan tata nilai yang serba meragukan. Disinilah letak perlunya supervisi pendidikan.
(6) Latar belakang pertumbuhan jabatan
Guru adalah penceramah zaman, guru seharusnya punya visi masa depan. Ketajaman visi mendorong guru-guru untuk mampu mengembangkan misinya. Untuk dapat mewujudkan misi guru harus belajar terus menjadi guru yang profesional. Guru yang profesional memiliki kualifikasi yakni a) ia ahli (expert) dalam bidang yang diajarkannya, b) memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, c) memiliki rasa kesejawatan dan kode etik serta memandang tugasnya sebagai suatu karier hidup.
Seorang guru harus tampak bugar (fitnes) dalam penampilannya. Ia seorang yang gemar membaca suka belajar terus menerus, terbuka untuk menerima ide-ide baru, inovasi dan sadar akan tanggung jawab profesionalnya. Tugas pelayanannya telah menyatu dengan dirinya, sehingga belajar mengajar dan mendidik itu telah menjadi karir hidup (life carrier).
D. Hal Yang Harus Ditingkatkan dan Dikembangkan
Sejarah supervisi di negara maju seperti Amerika mula-mula supervisi diarahkan untuk memperbaiki pengajaran. Perbaikan pengajaran harus dimulai dengan pembinaan dan pengembangan kurikulum yang menjadi sumber materi sajian pelajaran. Kemudian supervisi diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia, dalam hal ini potensi manusia, yaitu guru-guru. Jadi yang perlu ditingkatkan adalah potensi sumber daya guru, baik yang bersifat personal maupun yang bersifat profesional.
Beberapa usaha dalam membantu pertumbuhan dan pengembangan profesi antara lain: a) selalu belajar dan mengembangkan dorongan ingin tahu, b) selalu ada kesediaan untuk memperoleh pengetahuan dan informasi yang baru, c) selalu peka dan peduli terhadap tuntutan kemanusiaan dan kepekaan sosial, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya, d) menumbuhkan minat dan gairah terhadap tugas mengajar, karena tugas mengajar sudah menyatu dengan hidupnya.
Supervisi dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi pendidikan modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independen, dan dapat meningkatkan objektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugasnya. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan yakni guru. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan yakni guru tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan.
2. Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan.
3. Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah.
4. Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru.
5. Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran dan pengarahan.
6. Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik.
7. Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan.
8. Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah.
Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan penyusun, dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboratorium, dan ujian. Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis, program supervisi nonklinis, dan program supervisi kegiatan ekstra kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan harus diwujudkan dala pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkhis, (2) dilaksanakan secara demokratis, (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru), (5) merupakan bantuan profesional.
Kepala sekolah sebagai supervisor dapat dilakukan secara efektif antara lain melalui diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual, dan simulasi pembelajaran.
Sesuai dengan rumusan di atas maka kegiatan yang dapat disimpulkan dalam supervisi pembelajaran sebagai berikut: (1) membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru menjalankan tugasnya terutamadalampembelajaran; (2) mengembangkan kegiatan belajar mengajar; (3) upaya pembinaan dalam pembelajaran.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagaimana yang telah digariskan melalui Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.
2. Kegiatan pokok supervisi adalah melakukan pembinaan kepada sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya agar kualitas pembelajarannya meningkat.
3. Dibidang pendidikan dan pengajaran diperlukan penyelia (supervisor) yang dapat berdialog serta membantu pertumbuhan pribadi dan profesi guru agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesi.
4. Latar belakang perlunya supervisi terletak berakar mendalam dalam kebutuhan riil masyarakat antara lain: latar belakang kultural, filsafat, psikologis, sosial, sosiologis, dan pertumbuhan jabatan.
5. Supervisi diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia, dalam hal ini potensi manusia, yaitu guru-guru. Jadi yang perlu ditingkatkan adalah potensi sumber daya guru, baik yang bersifat personal maupun yang bersifat profesional.
B. Saran-Saran
1. Kepala sekolah sebagai supervisor diharapkan dapat berdialog serta membantu pertumbuhan pribadi dan profesi guru agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi dan profesi, bukanlah untuk mencari-cari kesalahannya.
2. Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkhis, (2) dilaksanakan secara demokratis, (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru), (5) merupakan bantuan profesional.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Cet. I. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Gunawan, Ary H., Administrasi Sekolah Administrasi Pendidikan Mikro, Cet. I. (Jakarta: Rineka Cipta, 2002)
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Edisi Revisi. (Jakarta: Rajawali Pers, 2005)
http://www.sman3blitar.net/content/view/194/198/
http://infopendidikankita.blogspot.com/2008/02/supervisi-pembelajaran.html
ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia), Perkembangan Ilmu Pendidikan di Indonesia, dalam kurun waktu 1965 – 1985: Jurnal Pendidikan, Nomor 2 Mei 1989.
Jacobson, et. al., The Effective School Principal in Elementary and Secondary Schools. (Englewood Cliffs: Prentice Hall Inc, 1954)
Pidarta, Made, Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Edisi II, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007)
Sahertian, Piet A., Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Cet. I (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)
Schein, Edgar H. and Diane W. Kommers, Professional Education, (New York: McGraw Hill Book Company, 1972)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar